Yang Terbaik Untuk Ibu

Apa yang bisa kita berikan untuk Ibu kita, seberapun besar hal itu, kita tak akan menyamai kasih sayangnya, Mungkin Puisi ini bisa sebagai kalimah yang tak akan bisa diungkapkan.

Cinta Itu Sederhana

Kadang kita terlalu berlebihan menanggapi cinta seolah bisa merubah kita menjadi dewa, dan sering juga terlalu menangisi jika sakit karenanya. Cinta tak pernah sesulit itu.

Tempat Terindah Wanita

Seharusnya mereka berada di sisi terhangat dunia.

Sujud-sujud untuk Cinta

Cinta tak jarang membuat kita salah arah, cinta kadang terlalu berlebihan berada dipuncak melebihi segalanya. Sejenak saja puisi ini mencoba mengajak untuk mensujudkan cinta dihadapanNya.

Wanita Tanpa Pilihan

Banyak yang menganggap mereka sebelah mata, puisi ini mencoba merambah sisi dari lubuk hati paling dalam dari wanita-wanita senja.

Tuesday, 23 October 2012

BADAI SEPOI-SEPOI




Badai Sepoi-Sepoi

semerbak menggertak rasa
hijau teduh mengayun rendah
Ah, cahaya datang terlalu dini
silau menjalar pilu karena tak usai
rindang taman yang kusiangi,
kini gersang

dingin kini, panas nanti
mutiara tersayat,
karena elok paras menggeliat

satu kata tutup terpaku
seribu maksud hati merancun, tumbuh duri
istana sang sukma, terterjang badai sepoi

Saturday, 29 September 2012

JEJAK ANJAK-ANJAK


Jejak anjak-anjak

perlahan, butiran debu ku himpun
setitik, ku tata jadi bata merekah
ku sulam merajut dinding surga
sembari gulung tikar, semak belukar
entah! siapa hendak singgah
turut larut jamuan istana?

awan erang-menggerang
gemuruh gaduh di pelataran
hujan mendirus, tawa di hunus
Mampus!
Hangus!
awan erang-membandang
kikis dinding, pendam lagi
tersungkur, ku bangun kembali

perih, tangis, lara kusiangi
kudirikan puri di bawah kanopi
setapak kini, kulucuti baja belenggu
hingga kelak tulangku padu berserak
Ah! siapa rela
sama tergeletak?

Friday, 24 August 2012

RENJANA SERAT SAUJANA



Renjana Serat Saujana

Ke barat kita makin tuju
tapi jalan tak satu, kian membelan
liku memisah titian kita bersarak
Kita tak padu tawang,kerap cewang
gubuk-gubuk pudar dari andang
awan-awan menghitam kelam
lau hilang

Kirana kembali singgah, gelisah
Enggan aku merayu lewat belaian
tak kuasa menimang dengan buaian
lelah sayap patah gelepur
jalanan makin garang
siang, malam lamban berbincang
awan-awan menghitam kelam
lalu hilang

Kirana kembali pergi, resah
kusirat hati merentet dedaunan
kukait cinta rajut dahan-dahan
lantas kutitip renjana pada sang luna
disana, engkau pasti nyenyak pirsa
sekilas roman setitik terbayang
bermuka-muka di cermin terawang
awan-awan menghitam kelam
kembali hilang

Wednesday, 22 August 2012

MUAK



Muak

Dunia padat pekat
Lekat bersimbah ramai saja
Lalu lalang manusia buta
Serimpet jalanan tak tuju
Otak kecil pula membatu

Lihat film tanpa hikmah
Ikut saja membuana ria
Lihat lagu tanpa makna
Ikut saja sambil tuli
Liat fashion tanpa wadah
Ikut saja, asal kena
Lihat nepotisme membudaya
Ikut saja, tambah kolega
Lihat korupsi kian bersemi
Ikut saja, asal terisi

Ah! Ramai dunia makin muram
Dipenuhi si bodoh ramai menggentam
Si bodoh ikut beramai dalam api
Lalu mati hangus tak sadari
Sesak aku bernafas racun rusuh
Muak aku disini ramai sekali
Muak aku hingar kembali

Thursday, 16 August 2012

KAMI, SEIKAT SAPU LIDI



Kami, Seikat Sapu Lidi

Kami lahir terantai dari bumi
Tumbuh berdiri diatas tanah berbatu
Kami tertanam dalam di gersang
Kering kerontang, tak tersirami
Kami anak-anak berjalan tercabir
Berlayar seberang di atas pasir

Keras hidup memecah berantah
Terbuang canda
Tersingkir tawa
Tangan tak sanggup memapah jalan
Hidup dalam timbunan kuncup
Punya kami, hanya tanah dipijaki
Dan bayang kami sendiri

Tapi,
Bergandeng kami mengenggam ardi
Menabur mimpi di ladang mentari
Angan tumbuh sepanjang jejak
Cekang membatu terukir asma
Pada nisan kami tertancap, serempak

Satu kami bisa diterjang
Seikat kami tak mampu dihadang
Satu kami bisa dipatah
Setali kami mematri huriah

Sunday, 12 August 2012

KASIH DI PUCUK MERIH


Kasih Di Pucuk Merih

Nyanyi derai rintik membasuh hati
Gumam pelangi meraut sendi
Kala bisikan bulan merasuki malam
Kesunyian berbaring di angan
Kata bisu tak sempat tertuang
Lagu kasih tak jenak terhidang

Lilin di gubuk melukis langit-langit
Menghitam nyaliku erat menggari
Berduyun asap berumbai, merantai
Bisikku dipudar, kian cabar

Meratap gagap kata belum terucap
Tertelan kembali karena senyummu
Gelisahku, resahku
Gentar, tertatar
Ulah manja yang jatuhkan sang raja
Dan suaraku terbabas, beringas

Tutur asih hanya di merih
Kian ujung kian repih

Friday, 10 August 2012

RONA PADAM KIRANA


Rona Padam Kirana

berlari waktu sisihkan kita
tarik embun tak sempat tercucup
belum jua usai kita untuk hidup
terpukul lebam penguasa malam
kita terperangah terbentur durhaka

buta kita, hati nelangsa
gemuruh ricuh mengusik kalbu
terhidang dosa di sajian silam
tak nyenyak tersuap, meluap
meski enyah tertelan, perlahan

tak tahu kita, dibalik cahaya
mentari tak lagi berseri
gelora jadi tandus ladang jiwa
meski kadang mengharap rintik tirta

Ah! kini kering sudah
bak mendamba telaga di kirana

Thursday, 9 August 2012

SEJOLI DI BAWAH KANOPI



Sejoli Di Bawah Kanopi

kami bergandeng, diam kami khusuk
kami berteduh, senyum kami beradu
berembun rumput terinjak jemari
sebak peluh kami, dentang tajam jantung
mendebar kalbu genderang rindu

lama kami tak bagini, tak seuntai
pilu menebar sendu karena candu
candamu
bisikmu
geliat bibirmu
kini kusuapi dalam di mata
ku tali bayang dalam hati
Ah! kami bertatap tak pernah usai

kian lama kami menanam imaji
bersolek pada debar-debar kalbu
bersentuhan nafas kami aroma kenanga
kami bertutur cinta tanpa aksara
mengumbar asmara dengan pesona

kami makin tertimbun gelora
tak lihat awan putih atau hitam
malam atau pagi, tak lagi peduli
kami cukup bertahta dibawah kanopi
aku narapati dan kau sang dewi

Tuesday, 7 August 2012

BILUR SANGKALA SEKUJUR


Bilur Sangkala Sekujur

Kepak sayap terlanjur patah
diuntai darahku mengalir percuma
dulu hinggap lama larut buang masa
kini meronta, meratap
api telah padam tinggal asap

Langkah kaki terlanjur angah
merantai setumpuk sesal berjubal
hiruk-pikuk bebani titian
campur dosa musim lalu kian masak
tak terkejar meski aku meluru
badai menerjang di empat penjuru

Genggam tangan terlanjur repih
memunguti serpih mimpi di jerami
berlumuran sampah dari jejak terbuang
merangkul menarik berat pedati
terpenuhi luapan bunga berguguran

Segala napas selira terlanjur buncah
silam menyayatku hingga ia beraja
lukaku semakin membalur
dicambuk sangkala kian tersungkur

Monday, 30 July 2012

BA'DA


Ba'da

Ramai berkunjung kala senja
Menyantap hidangan sisa-sisa
Terbangun kala akhir mendekat-lekat
Sejenak terbelalak lalu segera terpejam
Bersujud tak lagi pada waktunya
Sesal merayapi jiwa kian kusut
Tangis, tak surut
Duka, terbalut
Wajah, kian berkerut
Tinggal tunggu mati dikoyak usia
Tinggal tunggu kubur dicabik umur

Mau kita tercincang oleh dosa
Dan hina belum sempat kita urai?
Mau kita terlabur pekat rusuh

Hingga berkerak tak sempat terbasuh?

GELADAK SILU


Geladak Silu

Ruang berhimpit berjajaran goyah
Tersapu angin setitik hendak rebah
Kamar menuai dan melipat rindu
Tertata tumpuk banyangmu berjubal
Tumpah ruah senyum menyesak

Duduk melamun segera terbangun
Disempiti angan lampau bergoyang
Dikerjar badai depan tunggang langgang
Aku di bilik tak beratap
Tak berdinding

Ruang berhimpit berjajaran harap
Beringsut selangkah, sekali memapah
Laluan rahasia masih terbekap
Ku gandeng kau untuk singkap
Mimpi terpendam kelak tumbuh
Dedaunan berembun nanti merantai jari

Aku di bilik meminta

Mengharap!

Saturday, 21 July 2012

PURNAMA EMPAT WARNA


Purnama Empat Warna

satu
hari bermain dalam logika
menggoda setiap angka dan meriasnya
menanamkan dalam jiwa lebih muda
belai lembut sang petuah
jadi pahlawan di padang pasir
dipuja diangkat diatas perut lapar

Dua
hari bermain dalam warna
goresan kuas pada jalan hidup
padanan pelangi dalam hati
ditebar dalam pandang wangi

Tiga
hari bermain dalam kata
tumpukan sajak di lemari sastra
luapan emosi pujangga kelana
gurindam pengantar hidup-mati

Empat
Hari bermain dalam peluh
berjubal segala dalam imaji
kembangkan layar dunia maya
menyelam penuh bahtera jiwa


Ah! Purnama lebih indah empat warna

Friday, 20 July 2012

BULAN TAK BERTUAN



Bulan tak Bertuan

Langit telah bertanda, untuk kita
Bercak merah jingga warna setara
Lagu lama sekarang ulang dinyanyikan
Kepala sujud-sujud dalam rumah Tuhan

Niat menyuci dari kotor nafsu
Meluluhkan segala dosa tubuh
Tapi esok pupuk lagi rusuh hati
Tabur kerikil diantara debu
Lama jadi Batu, berat disapu

Niat menyuci kotor lainya
Otot kekar dan amarah dihunus
Yang masih kotor dihancur, diluluh
Menjadi pahlawan menuntut bayaran
Merasa benar diatas durja
Gelagat para iblis bermuka dua

Niat menyuci kotor bangsa
Berteriak atas nama Tuhan
Tapi berperilaku seperti setan
Ingin memeluk semua jadi satu
Tapi tangan selempangkan senjata

Ah! Malam khusuk dalam taubah
Siang bodoh ikut berangkara


Siapa tuan punya bulan?

Thursday, 19 July 2012

GEMERCIK SUARA HATI



Gemercik Suara Hati

Entah sejauh nampak tak teraba
Sembunyi di balik putaran bumi
Tak terjamah dipeluk mata
Terpejam untuk ingin bersua
Merajut jendela sembari mengintip
Kenangan kecil kala kau berbisik

Lama kita di dalam senja
Hingga mentari mengusir mimpi
Ah! suaramu masih kurindu, kini sayup
Lirih sekali, sirna sudah sama kirana

Ranting pagi hari telah berbincang
Teriakan angin makin mengencang
Sama hati ingin ku terbangkan
Tuturku selembut kabut menyapa
Engkau yang melangkah, jangan lelah

Tuesday, 17 July 2012

MIMPI ANAK JALANAN



Mimpi Anak Jalanan

Terkadang kami gelisah acap lupa
Mana mimpi, mana yang nyata
Kadang kami merasa dalam rumah mewah
Menyantap sajian nikmat bersama
Hingga ketika kami harus pergi tidur
Dan bermimpi di tengah jalanan
Menopang terik dengan asongan

Dalam gelap sering kami berharap
Esok kami tak bangun lagi
Sudah cukup kami dengan mimpi

Tak perlu lagi sang raja melihat
Toh hanya peduli bergelagat
Nyenyaklah kau dengan istana

Tak perlu lagi pengawal menghardik
Karna kotoran atau bau badan kami
Butalah, laksanakan saja perintah

Tak perlu lagi bangsawan beramal
Dengan harta bukan dari peluhnya
Tumpuk hartamu jadi liang lahatmu

Tak perlu lagi emak, bapak bersedih
Terima kasih atas segala doa
Kami hendak bermimpi, tak kembali

Monday, 16 July 2012

TUMBUH



Tumbuh

Lagi, waktu pergi tanpa peduli
tinggal jabat tangan kita erat
Kawan!
kemarin nampak kita begitu mungil
bermain air dan mengembara di sawah
kini, harus membelah angin sendiri
menyingkirkan badai sembari berlari

Lagi, waktu semakin bermain misteri
tinggal kenangan kita sama punya cita
teman!
esok kita tak tau siapa yang datang
dengan siapa hendak berbincang
mengenai hidupku, hidupmu, hidup kita

Lagi, waktu tak dapat dipelajari
tinggal lelah kita makin menjadi
Sobat!
esok siapa yang lekas pergi?
dan yang lain merancu hati

Ah! waktu berlalu, tinggal tunggu

Saturday, 14 July 2012

PELUH





Peluh

Gantungan rembulan mulai rapuh
Pijakan pepohonan kini retak tergeletak
Kini benih harus tumbuh di tanah asing
Menopang seringai mentari sendiri

Sepi, gelap, purnama telat tiba
Seraya menancap akar di tanah berbatu
Seraya menatap pelangi kian menjauh

Ah! Terengah aku dikerjar bayangan cermin

Tuesday, 10 July 2012

ROMPAL


Rompal

Setumpuk dibangun dari debu
Disiram dipupuk tangan lunglai
Kokoh berdiri lalu tetap saja luluh
Raga tumbuh ditopang jiwa dini
Rambut beruban diatas kepala bayi

Setumpuk dirajut dari angin
Dilipat lekat agar tak tercerai
Serantai bersatu namun berserak
Diikat setali namun tak satu hati
Kelambu diluar jendela pagi

Ah! semua yang satu jadi seribu
Yang berakar kencang kini lepuh

Beda jadi senjata pembinasa
Serempak untuk tak kompak
Sampai kapan kita tak jua dewasa?

Sunday, 8 July 2012

SAJAK BUAT PACARKU



Sajak Buat Pacarku

Kau kasihku, ketahuilah!
kala kau berjalan jangan kau tekan
jalanan keras bukan kita punya
berjalanlah tapi jangan menapak
mata angin kini buta
tarik nafas lalu tenggelamlah

kau kasihku, sadarilah!
pintu dibelakangmu tutupi
jendela jingga itu tak lagi mengintip
ke depan kau harus tuju
masa lalu jilid jadikan buku
sejarah untuk kelak kita telaah

kau kasihku, berlarilah!
panorama itu mengajak turut
hentak langkah sembari doa
dulu berdiri, kini berlari
lari
lari
lari
kesini kau untuk henti

PEMUDA TINGGAL TULANG





Pemuda Tinggal Tulang

Padamkan unggunnan api hura
Pendam gelora dengan debu merah
Jangan gerutu seolah cuma kau layu
Lempar saja hatimu untuk umpan
Biar anjing lapar nyenyak makan

Nanti, juga tak berarti kau hidup
Lama pula tinggal tunggu redup
Sayup, meletup lalu menutup keras

Sekarang nafas tiada guna
Kau hirup udara dan buang percuma
Keringat menetes saja di bayangmu
Hidup untuk hidupmu, buang yang lain

Lantas turut kabut hanya berjubal
Dengan nasehat, amanat kau kebal
Raga menjulang gagah jiwa bungkuk renta

Matikan saja sekali sudah nyawamu
Biar terpanggang di cabik api tanpa peduli
Lalu serakkan belulang-merentang

Friday, 6 July 2012

LAMUNAN


Lamunan

Berdiri aku sembari menarik hati
Serupa angin bertabur buih
Laku mimpi selalu hadir engkau
Di pantai putih kita bersuci
Menjamu malaikat dan bidadari
Di bawah barisan pohon kelapa, berpesta

Ku ajak kau mengaitkan pelangi
Rintik gerimis nyanyi dengan kita
Ah engkau terlampau manis
Manjamu kian mengaduk imaji
Awan menghimpit, bayang kita terangkul
Ombak berdesir mengikis peluh
Jadi kita penguasa bahtera cinta

Kau dan aku jadi satu di semalam
Lantas sengat mentari sadarkan aku
Oh anganku, jadilah Doaku
Oh harapku padaMu, kabulkanlah

SAJAK SURAM



Sajak Suram

Kuburan di langit langit
Nisan di atas neraka
Memendam selama rembulan
Mencerna tatapan berduka-ria
Menyantap jiwa bersama tulangnya
Bersisa darah di atas puri
Ditenggak kerongkongan patah

Kuburan di dalam istana
Terbakar robek jilatan api
Noda, najis, membasuh padam
Kenyang telah dengan sampah

Rasakan! kita tak ada atap
Kuburkan! dalam tanah merah padat