Yang Terbaik Untuk Ibu

Apa yang bisa kita berikan untuk Ibu kita, seberapun besar hal itu, kita tak akan menyamai kasih sayangnya, Mungkin Puisi ini bisa sebagai kalimah yang tak akan bisa diungkapkan.

Cinta Itu Sederhana

Kadang kita terlalu berlebihan menanggapi cinta seolah bisa merubah kita menjadi dewa, dan sering juga terlalu menangisi jika sakit karenanya. Cinta tak pernah sesulit itu.

Tempat Terindah Wanita

Seharusnya mereka berada di sisi terhangat dunia.

Sujud-sujud untuk Cinta

Cinta tak jarang membuat kita salah arah, cinta kadang terlalu berlebihan berada dipuncak melebihi segalanya. Sejenak saja puisi ini mencoba mengajak untuk mensujudkan cinta dihadapanNya.

Wanita Tanpa Pilihan

Banyak yang menganggap mereka sebelah mata, puisi ini mencoba merambah sisi dari lubuk hati paling dalam dari wanita-wanita senja.

Thursday, 24 January 2013

ORKESTRA DI ALTAR TUHAN



Orkestra di Altar Tuhan

pelangi itu satu, tapi bermacam warna
sejarah tergali dari bermacam cerita
merdeka tercipta dari aneka senjata
sejatinya kita sama belajar
seperti seorang anak dahaga
berlari, bersiuh cari Sang ayah
seperti sebutir benih nyaris repih
terbang melerang untuk tumbuh

topi itu satu, tapi bermacam bentuk
tak ada topi sang narapati
topi kita sama,
lelah renta adalah petani di sawah
ladang kita tuai seusai mati
kenapa harus bengis berebut,
topi mana yang paling bersih?
Ah, topi kita ini sama berlumpur

musik juga satu, tapi bermacam bunyi
satu alat musik bising,
ramai tutupi dengan yang lebih nyaring
bukan membakar yang tak selaras
tapi benahi agar pantas
bermain serasi, tersenyum berseri
harmonisasi dalam setiap imani
kita jamukan sebuah orkestra
nyayian hening depan Tuhan

KASIH DIBALIK KELAMBU PAGI HARI




Kasih Dibalik Kelambu Pagi Hari

embun pagi cabik terberai
kelambu kamar enggan terurai
kerinduaan tak singgah, terbang lantang
kasih terhambat duri, tercemari
kini mata menantang pandang
dedaunan hijau mendebar hati
akar tunggang kian tersemai perih

udara pagi meracun nafas
melukis arang pada kanvas
bias pekat, makin terurat
senyummu kini tak lagi
terganti rembulan di singgasana malam
tawamu kini usang
terganti gurau pada surau

hujan masih menghiasi
kelambu hatiku kian ku tutupi
kembali tidur berdamping mimpi
pada kelam, aku menyulam gelora
pada malam, aku hendak bercinta

ASMARA DARA SENJA


Asmara Dara Senja

Engkau datang dalam senja
Engkau lahir dalam senja
Dara jelita mengoyak tirai mata
Elok erat melecut bak cemeti
hati yang meluap, kini dangkal berganjal

Dara tiba saat malam
Dara membelai lubuk curam
menelanjangi jengkal nurani
senyum bernyanyi
sapa lembut sunyi
tawa melukis jingga
belai menghempas raga
Ah, engkau kurengkuh, lumpuh
Engkau racun yang kunikmati
Engkau duri yang kucumbui
bak belati erat kugenggam
perih ku semai, membuai

Dara singgah saat senja
Dara tiada saat senja
hingga cinta menabuh sukma
aku masih enggan terjaga

Tuesday, 23 October 2012

BADAI SEPOI-SEPOI




Badai Sepoi-Sepoi

semerbak menggertak rasa
hijau teduh mengayun rendah
Ah, cahaya datang terlalu dini
silau menjalar pilu karena tak usai
rindang taman yang kusiangi,
kini gersang

dingin kini, panas nanti
mutiara tersayat,
karena elok paras menggeliat

satu kata tutup terpaku
seribu maksud hati merancun, tumbuh duri
istana sang sukma, terterjang badai sepoi

Saturday, 29 September 2012

JEJAK ANJAK-ANJAK


Jejak anjak-anjak

perlahan, butiran debu ku himpun
setitik, ku tata jadi bata merekah
ku sulam merajut dinding surga
sembari gulung tikar, semak belukar
entah! siapa hendak singgah
turut larut jamuan istana?

awan erang-menggerang
gemuruh gaduh di pelataran
hujan mendirus, tawa di hunus
Mampus!
Hangus!
awan erang-membandang
kikis dinding, pendam lagi
tersungkur, ku bangun kembali

perih, tangis, lara kusiangi
kudirikan puri di bawah kanopi
setapak kini, kulucuti baja belenggu
hingga kelak tulangku padu berserak
Ah! siapa rela
sama tergeletak?

Friday, 24 August 2012

RENJANA SERAT SAUJANA



Renjana Serat Saujana

Ke barat kita makin tuju
tapi jalan tak satu, kian membelan
liku memisah titian kita bersarak
Kita tak padu tawang,kerap cewang
gubuk-gubuk pudar dari andang
awan-awan menghitam kelam
lau hilang

Kirana kembali singgah, gelisah
Enggan aku merayu lewat belaian
tak kuasa menimang dengan buaian
lelah sayap patah gelepur
jalanan makin garang
siang, malam lamban berbincang
awan-awan menghitam kelam
lalu hilang

Kirana kembali pergi, resah
kusirat hati merentet dedaunan
kukait cinta rajut dahan-dahan
lantas kutitip renjana pada sang luna
disana, engkau pasti nyenyak pirsa
sekilas roman setitik terbayang
bermuka-muka di cermin terawang
awan-awan menghitam kelam
kembali hilang

Wednesday, 22 August 2012

MUAK



Muak

Dunia padat pekat
Lekat bersimbah ramai saja
Lalu lalang manusia buta
Serimpet jalanan tak tuju
Otak kecil pula membatu

Lihat film tanpa hikmah
Ikut saja membuana ria
Lihat lagu tanpa makna
Ikut saja sambil tuli
Liat fashion tanpa wadah
Ikut saja, asal kena
Lihat nepotisme membudaya
Ikut saja, tambah kolega
Lihat korupsi kian bersemi
Ikut saja, asal terisi

Ah! Ramai dunia makin muram
Dipenuhi si bodoh ramai menggentam
Si bodoh ikut beramai dalam api
Lalu mati hangus tak sadari
Sesak aku bernafas racun rusuh
Muak aku disini ramai sekali
Muak aku hingar kembali