Yang Terbaik Untuk Ibu

Apa yang bisa kita berikan untuk Ibu kita, seberapun besar hal itu, kita tak akan menyamai kasih sayangnya, Mungkin Puisi ini bisa sebagai kalimah yang tak akan bisa diungkapkan.

Cinta Itu Sederhana

Kadang kita terlalu berlebihan menanggapi cinta seolah bisa merubah kita menjadi dewa, dan sering juga terlalu menangisi jika sakit karenanya. Cinta tak pernah sesulit itu.

Tempat Terindah Wanita

Seharusnya mereka berada di sisi terhangat dunia.

Sujud-sujud untuk Cinta

Cinta tak jarang membuat kita salah arah, cinta kadang terlalu berlebihan berada dipuncak melebihi segalanya. Sejenak saja puisi ini mencoba mengajak untuk mensujudkan cinta dihadapanNya.

Wanita Tanpa Pilihan

Banyak yang menganggap mereka sebelah mata, puisi ini mencoba merambah sisi dari lubuk hati paling dalam dari wanita-wanita senja.

Thursday, 14 March 2013

CAHAYA CINTA




Cahaya itu Cinta

aku menitih terjal gurun berapi
semua aku terserak, pencar dalam nanar
lalu, hujan itu datang pendam bara
ribuan rintik itu adalah senyummu

aku tenggelam di palung tak beralas
ombak terjang ku terbentur karang
lalu, bahtera itu datang berlabuh
tersandarku, itu nafasmu

aku terkubur padat bentala, merah
meretak merekah tertimbun sampah
lalu, bunga itu tumbuh di tanah tandus
sekar mewangiku, itu doamu

aku, aku berdiri di ambang neraka
lalu kau datang, dengan tanda kuasaNya
Cinta, cahaya memeka kau bawa

Thursday, 21 February 2013

BUNGA DALAM SEKAM




Bunga Dalam Sekam

bunga-bunga itu tumbuh, Sayang
tapi tiada senyummu
rerumputan itu menghijau menyejuk padang
tapi tiada bayangmu
mentari terbelalak meretak kelambu cakrawala
tapi hadirmu masih tak nyata

di sela panas suluh, nafasku terengah
jantungku terpanggang karna rindu
cinta yang terpisah jauh pematang, petang
aku memimpikanmu, sambil mengerang
bak secuil gelisah yang tersulut tresna
separuh sukmaku, telah ikut detak nadimu

Sayang, bunga-bunga mekar dalam sekam
ketika api datang, dan membara
seperti aku adalah dewana
bertahta di astana hampa

Sayang, bunga-bunga berubah arang
tapi bunga-bunga tak pernah benar sirna
wangi masih merebak malam
bunga-bunga itu kini sekam

Sunday, 10 February 2013

MENGGANTUNG MIMPI




Menggantung Mimpi

ku tatap awan yang bergantungan di langit
mereka menjauh, kerap kali nampak pekat
ku dekati ku tawarkan sumpah bakti
ah, masih saja abu-abu
aku lalu berlari memunguti rintik hujan
hingga berhenti di tengah gurun bara

ku panggil mendung, untuk menutup rembulan
masih saja aku di antara malam
menari di atas bayanganku di balik riak air
pucat biru, aku terpukul mimpiku

ku panggil petir gelegar, untuk membakar darah
darahku, jiwaku, enggan duduk di atas tandu
aku buta tentang esok pagi
tapi terus aku berburu hari ini

Thursday, 31 January 2013

DARI BALIK KACA




Dari Balik Kaca

dari balik kaca aku menatap
bangsaku menjadi raja
bermahkotakan neraca keadilan
berpermaisurikan senyum para warga

dari balik kaca aku menatap
bangsaku yang tumbuh dengan pendidikan
berjalan dengan kaki-kaki kearifan
bukan dengan caci maki dan hinaan

dari balik kaca aku menatap
bangsaku yang bersatu karena perbedaan
berpelukan dalam berbagai busana
bukan beradu mencari pembenaran

dari balik kaca aku menatap
bangsaku diperintah oleh yang berhati singa
penguasa yang benar amanah pada warga
bukan yang mencari kaya semata

dari balik mataku aku menatap
ah! ternyata terlalu semu kacaku
hujan rintik menjadikannya semakin buram
terlampau perih melihat bangsaku dengan mataku
aku kembali di balik kaca

dari balik kaca aku menatap, mengkhayal

Sunday, 27 January 2013

BERLARI MEMBAWA HATI


Berlari Membawa Hati


harus dengan mata yang seperti apa aku menatapmu
jika parasmu adalah kilau yang membutakanku?
harus dengan apa aku menikmati aromamu
jika ada didekatmu saja sesak dadaku?
harus dengan apa ku peluk raga gemulaimu
jika menyentuhmu saja aku mendadak kaku?
harus dengan bibir yang seperti apa aku ucapkan cinta
jika di bawah sejuk parasmu aku bisu berkata-kata

engkau terlampau singkat untuk singgah
bahkan dimimpiku, sebentar sekali lalu kau pergi
sudah! bunuh aku, asal kau bawa hatiku


Friday, 25 January 2013

CINTA SEORANG ANAK TERHADAP IBUNYA




KISAH NYATA - Cinta Seorang Anak Terhadap Ibunya

Kisah di musim dingin (true story, seperti temuat dalam Xia Wen Pao, 2007) Siu Lan, seorang janda miskin memiliki seorang putri kecil berumur 7 tahun, Lie Mei. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue dan menjajakannya di pasar untuk biaya hidup berdua. Hidup penuh kekurangan membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja pada ibunya, seperti anak kecil lain.

Suatu ketika dimusim dingin, saat selesai membuat kue, Siu Lan melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia berpesan agar Lie Mei menunggu di rumah karena dia akan membeli keranjang kue yang baru. Pulang dari membeli keranjang kue, Siu Lan menemukan pintu rumah tidak terkunci dan Lie Mei tidak ada di rumah. Marahlah Siu Lan.Putrinya benar-benar tidak tahu diri, sudah hidup susah masih juga pergi bermain dengan teman-temannya. Lie Mei tidak menunggu rumah seperti pesannya.

Siu Lan menyusun kue kedalam keranjang, dan pergi keluar rumah untuk menjajakannya. Dinginnya salju yang memenuhi jalan tidak menyurutkan niatnya untuk menjual kue. Bagaimana lagi ? Mereka harus dapat uang untuk makan. Sebagai hukuman bagi Lie Mei, putrinya, pintu rumah dikunci Siu Lan dari luar agar Lie Mei tidak bisa pulang. Putri kecil itu harus diberi pelajaran, pikirnya geram. Lie Mei sudah berani kurang ajar.

Sepulang menjajakan kue, Siu Lan menemukan Lie Mei, gadis kecil itu tergeletak di depan pintu. Siu Lan berlari memeluk Lie Mei yang membeku dan sudah tidak bernyawa. Siu Lan berteriak membelah kebekuan salju dan menangis meraung-raung, tapi Lie Mei tetap tidak bergerak. Dengan segera, Siu Lan membopong Lie Mei masuk ke rumah.

Siu Lan menggoncang- goncangkan tubuh beku putri kecilnya sambil meneriakkan nama Lie Mei. Tiba-tiba jatuh sebuah bungkusan kecil dari tangan Lie Mei. Siu Lan mengambil bungkusan kecil itu, dia membukanya. Isinya sebungkus kecil biskuit yang dibungkus kertas usang. Siu Lan mengenali tulisan pada kertas usang itu adalah tulisan Lie Mei yang masih berantakan namun tetap terbaca *,"Hi..hi..hi. . mama pasti lupa. Ini hari istimewa buat mama. Aku membelikan biskuit kecil ini untuk hadiah. Uangku tidak cukup untuk membeli biskuit ukuran besar. Hi…hi…hi.. mama selamat ulang tahun."*

Renungan :

Ingatlah, jangan terlalu cepat menilai seseorang berdasarkan persepsi kita, karena persepsi kita belum tentu benar adanya.

THINK. It is the source of power
READ. It is the foundation of wisdom
QUIET. It is the opportunity to seek God
DREAM. It is what the future is made of
PRAY. It is the greatest power on earth.......

DERAI NYANYIAN SEPI




Derai Nyanyian Sepi

ingin ku gaduhkan hatiku,
biar sepi disantap bulan yang haus akan sunyi
ingin ku jadikan pasar petang kuburan,
agar hidup kembali tawa-tawa mereka

ah, sendiri aku tak nyeyak hati
srigala malam pun bergumul dengan kawanannya
serangga-serangga kecil masih berpesta
rerumputan pun liar menari, memutari api
tapi aku adalah bayangan lampu temaram

pada siapa aku hendak berbincang?
pada dedaunan yang tengah berceloteh ria
atau pada sepasang kesuma yang tengah bercumbu

kenapa, tak kuletakkan saja sukmaku?
biar aku tak satupun merasa
tawa lepas canda tanpa kepala
ah, itu tak akan usai jua
sepi itu aku,
bayangan lamunan penantianmu

Thursday, 24 January 2013

ORKESTRA DI ALTAR TUHAN



Orkestra di Altar Tuhan

pelangi itu satu, tapi bermacam warna
sejarah tergali dari bermacam cerita
merdeka tercipta dari aneka senjata
sejatinya kita sama belajar
seperti seorang anak dahaga
berlari, bersiuh cari Sang ayah
seperti sebutir benih nyaris repih
terbang melerang untuk tumbuh

topi itu satu, tapi bermacam bentuk
tak ada topi sang narapati
topi kita sama,
lelah renta adalah petani di sawah
ladang kita tuai seusai mati
kenapa harus bengis berebut,
topi mana yang paling bersih?
Ah, topi kita ini sama berlumpur

musik juga satu, tapi bermacam bunyi
satu alat musik bising,
ramai tutupi dengan yang lebih nyaring
bukan membakar yang tak selaras
tapi benahi agar pantas
bermain serasi, tersenyum berseri
harmonisasi dalam setiap imani
kita jamukan sebuah orkestra
nyayian hening depan Tuhan

KASIH DIBALIK KELAMBU PAGI HARI




Kasih Dibalik Kelambu Pagi Hari

embun pagi cabik terberai
kelambu kamar enggan terurai
kerinduaan tak singgah, terbang lantang
kasih terhambat duri, tercemari
kini mata menantang pandang
dedaunan hijau mendebar hati
akar tunggang kian tersemai perih

udara pagi meracun nafas
melukis arang pada kanvas
bias pekat, makin terurat
senyummu kini tak lagi
terganti rembulan di singgasana malam
tawamu kini usang
terganti gurau pada surau

hujan masih menghiasi
kelambu hatiku kian ku tutupi
kembali tidur berdamping mimpi
pada kelam, aku menyulam gelora
pada malam, aku hendak bercinta

ASMARA DARA SENJA


Asmara Dara Senja

Engkau datang dalam senja
Engkau lahir dalam senja
Dara jelita mengoyak tirai mata
Elok erat melecut bak cemeti
hati yang meluap, kini dangkal berganjal

Dara tiba saat malam
Dara membelai lubuk curam
menelanjangi jengkal nurani
senyum bernyanyi
sapa lembut sunyi
tawa melukis jingga
belai menghempas raga
Ah, engkau kurengkuh, lumpuh
Engkau racun yang kunikmati
Engkau duri yang kucumbui
bak belati erat kugenggam
perih ku semai, membuai

Dara singgah saat senja
Dara tiada saat senja
hingga cinta menabuh sukma
aku masih enggan terjaga

Tuesday, 23 October 2012

BADAI SEPOI-SEPOI




Badai Sepoi-Sepoi

semerbak menggertak rasa
hijau teduh mengayun rendah
Ah, cahaya datang terlalu dini
silau menjalar pilu karena tak usai
rindang taman yang kusiangi,
kini gersang

dingin kini, panas nanti
mutiara tersayat,
karena elok paras menggeliat

satu kata tutup terpaku
seribu maksud hati merancun, tumbuh duri
istana sang sukma, terterjang badai sepoi

Saturday, 29 September 2012

JEJAK ANJAK-ANJAK


Jejak anjak-anjak

perlahan, butiran debu ku himpun
setitik, ku tata jadi bata merekah
ku sulam merajut dinding surga
sembari gulung tikar, semak belukar
entah! siapa hendak singgah
turut larut jamuan istana?

awan erang-menggerang
gemuruh gaduh di pelataran
hujan mendirus, tawa di hunus
Mampus!
Hangus!
awan erang-membandang
kikis dinding, pendam lagi
tersungkur, ku bangun kembali

perih, tangis, lara kusiangi
kudirikan puri di bawah kanopi
setapak kini, kulucuti baja belenggu
hingga kelak tulangku padu berserak
Ah! siapa rela
sama tergeletak?

Friday, 24 August 2012

RENJANA SERAT SAUJANA



Renjana Serat Saujana

Ke barat kita makin tuju
tapi jalan tak satu, kian membelan
liku memisah titian kita bersarak
Kita tak padu tawang,kerap cewang
gubuk-gubuk pudar dari andang
awan-awan menghitam kelam
lau hilang

Kirana kembali singgah, gelisah
Enggan aku merayu lewat belaian
tak kuasa menimang dengan buaian
lelah sayap patah gelepur
jalanan makin garang
siang, malam lamban berbincang
awan-awan menghitam kelam
lalu hilang

Kirana kembali pergi, resah
kusirat hati merentet dedaunan
kukait cinta rajut dahan-dahan
lantas kutitip renjana pada sang luna
disana, engkau pasti nyenyak pirsa
sekilas roman setitik terbayang
bermuka-muka di cermin terawang
awan-awan menghitam kelam
kembali hilang

Wednesday, 22 August 2012

MUAK



Muak

Dunia padat pekat
Lekat bersimbah ramai saja
Lalu lalang manusia buta
Serimpet jalanan tak tuju
Otak kecil pula membatu

Lihat film tanpa hikmah
Ikut saja membuana ria
Lihat lagu tanpa makna
Ikut saja sambil tuli
Liat fashion tanpa wadah
Ikut saja, asal kena
Lihat nepotisme membudaya
Ikut saja, tambah kolega
Lihat korupsi kian bersemi
Ikut saja, asal terisi

Ah! Ramai dunia makin muram
Dipenuhi si bodoh ramai menggentam
Si bodoh ikut beramai dalam api
Lalu mati hangus tak sadari
Sesak aku bernafas racun rusuh
Muak aku disini ramai sekali
Muak aku hingar kembali

Thursday, 16 August 2012

KAMI, SEIKAT SAPU LIDI



Kami, Seikat Sapu Lidi

Kami lahir terantai dari bumi
Tumbuh berdiri diatas tanah berbatu
Kami tertanam dalam di gersang
Kering kerontang, tak tersirami
Kami anak-anak berjalan tercabir
Berlayar seberang di atas pasir

Keras hidup memecah berantah
Terbuang canda
Tersingkir tawa
Tangan tak sanggup memapah jalan
Hidup dalam timbunan kuncup
Punya kami, hanya tanah dipijaki
Dan bayang kami sendiri

Tapi,
Bergandeng kami mengenggam ardi
Menabur mimpi di ladang mentari
Angan tumbuh sepanjang jejak
Cekang membatu terukir asma
Pada nisan kami tertancap, serempak

Satu kami bisa diterjang
Seikat kami tak mampu dihadang
Satu kami bisa dipatah
Setali kami mematri huriah

Sunday, 12 August 2012

KASIH DI PUCUK MERIH


Kasih Di Pucuk Merih

Nyanyi derai rintik membasuh hati
Gumam pelangi meraut sendi
Kala bisikan bulan merasuki malam
Kesunyian berbaring di angan
Kata bisu tak sempat tertuang
Lagu kasih tak jenak terhidang

Lilin di gubuk melukis langit-langit
Menghitam nyaliku erat menggari
Berduyun asap berumbai, merantai
Bisikku dipudar, kian cabar

Meratap gagap kata belum terucap
Tertelan kembali karena senyummu
Gelisahku, resahku
Gentar, tertatar
Ulah manja yang jatuhkan sang raja
Dan suaraku terbabas, beringas

Tutur asih hanya di merih
Kian ujung kian repih

Friday, 10 August 2012

RONA PADAM KIRANA


Rona Padam Kirana

berlari waktu sisihkan kita
tarik embun tak sempat tercucup
belum jua usai kita untuk hidup
terpukul lebam penguasa malam
kita terperangah terbentur durhaka

buta kita, hati nelangsa
gemuruh ricuh mengusik kalbu
terhidang dosa di sajian silam
tak nyenyak tersuap, meluap
meski enyah tertelan, perlahan

tak tahu kita, dibalik cahaya
mentari tak lagi berseri
gelora jadi tandus ladang jiwa
meski kadang mengharap rintik tirta

Ah! kini kering sudah
bak mendamba telaga di kirana

Thursday, 9 August 2012

SEJOLI DI BAWAH KANOPI



Sejoli Di Bawah Kanopi

kami bergandeng, diam kami khusuk
kami berteduh, senyum kami beradu
berembun rumput terinjak jemari
sebak peluh kami, dentang tajam jantung
mendebar kalbu genderang rindu

lama kami tak bagini, tak seuntai
pilu menebar sendu karena candu
candamu
bisikmu
geliat bibirmu
kini kusuapi dalam di mata
ku tali bayang dalam hati
Ah! kami bertatap tak pernah usai

kian lama kami menanam imaji
bersolek pada debar-debar kalbu
bersentuhan nafas kami aroma kenanga
kami bertutur cinta tanpa aksara
mengumbar asmara dengan pesona

kami makin tertimbun gelora
tak lihat awan putih atau hitam
malam atau pagi, tak lagi peduli
kami cukup bertahta dibawah kanopi
aku narapati dan kau sang dewi

Tuesday, 7 August 2012

BILUR SANGKALA SEKUJUR


Bilur Sangkala Sekujur

Kepak sayap terlanjur patah
diuntai darahku mengalir percuma
dulu hinggap lama larut buang masa
kini meronta, meratap
api telah padam tinggal asap

Langkah kaki terlanjur angah
merantai setumpuk sesal berjubal
hiruk-pikuk bebani titian
campur dosa musim lalu kian masak
tak terkejar meski aku meluru
badai menerjang di empat penjuru

Genggam tangan terlanjur repih
memunguti serpih mimpi di jerami
berlumuran sampah dari jejak terbuang
merangkul menarik berat pedati
terpenuhi luapan bunga berguguran

Segala napas selira terlanjur buncah
silam menyayatku hingga ia beraja
lukaku semakin membalur
dicambuk sangkala kian tersungkur